Ilmu Sebagai Pengawal Ibadah
Pernahkah anda membeli kendaraan lalu mendapatkan sebuah manual book? pernahkah anda membeli kipas angin lalu mendapatkan panduan cara memasang dan merakitnya? Kira-kira begitu gambaran bahwa hidup ini tidak berjalan begitu saja tanpa adanya petunjuk.
Ilmu menjadi kedudukan yang tinggi setelah adab, bahkan adab tidak akan sempurna jika tidak disertai dengan pemahaman yang baik. Seperti kisah Nabi Adam As sebagai manusia pertama yang diciptakan oleh Allah yang dibekali akal serta ilmu sehingga Ia menjadi mahluk yang memiliki tempat dan drajat yang tinggi disisi Allah Swt.
وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ
Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. (Al Mujadalah : 11)
Bahkan saat Rasulallah Saw mendapatkan wahyu pertamanya ia diminta untuk membaca, dan membaca adalah aktifitas yang jika dilakukan secara terus menerus akan memberikan stimulus kepada akal untuk mengembangkan potensinya.
Banyak orang berlomba-lomba mencari amal namun gagal faham pada prosedur teknis sehingga amalan yang dilakukan tidak bernilai ibadah disisi Allah Swt. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa mengamalkan sesuatu yang tidak ada landasannya dalam urusan kami, maka amalnya tertolak.” (H.R. Muslim).
Imam Ibnul Qayyim membawakan sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam At-Tirmidzi dari riwayat dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
فَقِيهٌ وَاحِدٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ
“Seorang yang berilmu lebih susah dihadapi oleh setan dibandingkan seribu orang ahli ibadah.”
Salah satu keunikan orang yang berilmu mereka faham dan sadar akan celah yang mendatangkan pesakitan, lalu dengan keahliannya ia akan menutup celah tersebut seraya memuji Tuhannya, berbeda dengan orang gigih namun bodoh, ia akan terus mengisi ember dengan air namun tidak menyadari adanya kebocoran sehingga sia-sia apa yang telah dilakukannya.
Ilmu bagaikan cahaya العلم نور yang akan menerangi sisi gelap, sifat-sifat jahiliyah yang ada dalam fikiran, hati dan prilaku kita. Kejahilan kita dalam melakukan berbagai ritual ibadah akan membawa petaka dan bencana untuk diri sendiri, merusak subtansi dari ibadah tersebut.
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang berdoa untuknya” (HR. Muslim).
Sungguh ilmu akan membawa seseorang kepada kebagiaan dunia dan ahirat, melaksanakan perintah dan larangan dengan dasar yang telah ditetapkan akan menambah nilai ibadah tersebut, dengan ilmu kita terjaga dari kesesatan berfikir, sebab akal manusia terbatas dan ilmu Allah sangatlah luas.

Komentar
Posting Komentar