Pentingnya Bertoleransi

Berada dalam lingkungan yang nyaman, aman dan tenteram adalah impian bagi setiap orang, tanpa terkecuali apapun latar belakang etnis, suku, budaya dan agamanya. Tentu hal ini tidak luput dari sikap dan prilaku manusia dalam menjalani kehidupan yang penuh warna warni ini. Kondisi tersebut juga akan mempengaruhi psikis seseorang yang berimbas pada kehidupan sosialnya.

Toleransi dalam bahasa arab yaitu tasamuh, toleransi juga diartikan sikap saling menghormati dan menghargai kepada orang lain dalam sebuah perbedaan.

Dewasa ini kita sering menjumpai pertengkaran dan perselisihan terjadi ditengah-tengah masyarakat oleh para pelaku kelompok atau individu yang berseberangan dalam memandang suatu permasalahan, entah itu masalah agama, politik, budaya, bahkan dalam pilihan pemimpin. Hal ini terjadi sebab kurangnya rasa saling menghormati dan minimnya ilmu serta pengamalannya dalam hidup.

Lalu bagaimana Islam memandang toleransi ini, apakah bertoleransi harus diterapkan secara kaffah atau memiliki batas-batas yang harus difahami oleh seorang muslim?.

Hadits Rasulallah Saw :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ اْلأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; ditanyakan kepada Rasulullah SAW: “’Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah? Maka beliau
bersabda: ‘Al-Hanifiyyah As-Samhah (yang lurus lagi toleran)’.” (HR Bukhari).

Islam sebagai agama rahmatan lil 'alamin mengajarkan kepada penganutnya untuk menghormati dan menghargai antar sesama, baik kepada non-muslim dan umat beragama lain. Dengan memupuk rasa toleransi tersebut akan menciptakan kerukunan ditengah-tengah perbedaan. Tak hanya itu, akan ada banyak kebaikan yang diperoleh jika hubungan sosial ini diperkuat atas dasar kasih dan sayang sehingga meminimalisir jarak diantara sesama.

Bahkan Rasulallah Saw sebagai mahluk terbaik di bumi selalu mencontohkan sikap toleransi ini kepada orang lain, sahabat, masyarakat dan orang-orang Jahiliyah pada waktu itu.

Tak hanya itu, ketika utusan Nasrani dari Habsyah (Ethiopia) datang kepada Rasulullah SAW, beliaupun menghormatinya. "Mereka adalah orang orang yang dihormati dilingkungannya, maka aku ingin menghormati mereka oleh diriku sendiri", tuturnya. Saat Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, banyak orang yahudi sudah menetap disana, tapi beliau tidak mengusirnya malah berintaksi dengan mereka dan membuat perjanjian. Diantara isinya berbunyi "orang yahudi mempunyai hak dalam melaksanakan agama mereka dan kaum muslimin mempunyai hak hak melaksanakan agama mereka". Rasulullah juga hadir ketika ada dari Yahudi yang meninggal, beliapun memberikan penghormatan. Kepada tengganya baik kafir atau bukan Rasulullah SAW bersikap bijaksana dan menjauhui permusuhan apalagi sampai melukai perasaannya.

Khususnya bagi umat islam sendiri, memahami perbedaan dengan dasar dan landasan yang kuat sangat diperlukan agar terhindar dari konflik sesama saudara muslim, sebab faktanya perbedaan ini terjadi didalam praktik ibadah yang memiliki sumber sanad keilmuan masing-masing. Bahkan didalam kehidupan terdekat kita seperti teman, saudara, tetangga sikap ini harus dipupuk guna menjaga silaturahmi dan memelihara kehidupan yang lebih harmonis.

Namun yang harus kita fahami bahwa toleransi memiliki sekat atau batasan dalam urusan aqidah dan keyakinan, terpapar dengan jelas dalam Al Quran Allah berfirman :

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١ لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ٢ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٣ وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ ٤ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٥ لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ  [ الكافرون: 1-6]

“Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”.  [al-Kafiruun/109 : 1-6].

Sudah seyogyanya kita sebagai umat Islam memiliki prinsip yang kuat dalam urusan aqidah yang tidak bisa ditawar dengan dalih dan alasan apapun, bertoleransi bukan berarti mengiyakan keyakinan agama lain yang bisa menciderai keimanan seorang muslim.

Komentar